Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh tim hisab dan ru’yah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, maka akan terjadi Khusuf al-Qomar (gerhana bulan) pada hari Rabu tanggal 14 Jumada Al-Ula 1439 H bertepatan dengan 31 Januari 2018 M. Tepatnya mulai sekitar pukul 18.48 sd pkl 22.11 WIB.

Oleh karena itu, Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah mengajak kaum muslimin untuk:
1. Melaksanakan shalat khusuf berjamaah di masjid-masjid sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dengan rasa khusyuk dan rasa takut pada Allah SWT.
2. Memperbanyak takbir, doa, dan dzikir.
3. Memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah SWT.
4. Memperbanyak sedekah.

Tata Cara Shalat Gerhana
1. Memastikan terjadinya Gerhana.
2. Shalat gerhana dilakukan pada saat terjadinya gerhana.
3. Sebelum shalat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan ‘As-Shalaatu Jamiah’.
4. Shalat Gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat.
5. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku dan dua kali sujud.
6. Setelah ruku’ pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surat kembali.
7. Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang dari surat kedua.
8. Begitu juga pada rakaat kedua, bacaan surat pertama lebih panjang dari surat kedua.
9. Setelah shalat disunnahkan khutbah.

Landasannya:

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah ra, berkata:
”Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah SAW saat kematian Ibrahim”. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian seseorang dan tidak karena kelahiran seseorang. Ketika kalian melihatnya, maka berdoalah pada Allah dan shalatlah sampai selesai.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dari ‘Aisyah r.a, istri Nabi SAW berkata, “Terjadi gerhana matahari dalam kehidupan Rasulullah SAW. Beliau keluar menuju masjid, berdiri dan bertakbir. Sahabat di belakangnya membuat shaff. Rasulullah SAW membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang panjang, kemudian takbir, selanjutnya ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, “Sami’allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu”. Setelah itu membaca dengan bacaan yang panjang, lebih pendek dari bacaan pertama. Kemudian takbir, selanjutnya ruku’ lagi dengan ruku’ yang panjang, tetapi lebih pendek dari ruku’ pertama. Kemudian berkata,”Sami’allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu.” Selanjutnya sujud. Dan seterusnya melakukan seperti pada rakaat pertama, sehingga sempurnalah melakukan shalat dengan empat ruku dan empat sujud. Dan matahari bercahaya kembali sebelum mereka meninggalkan tempat. Seterusnya Rasul SAW bangkit berkhutbah di hadapan manusia, beliau memuji pada Allah SWT sebagaimana nikmat yang telah diberikan pada ahlinya. Rasul SAW bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Kedua gerhana itu tidak terjadi karena kematian atau kehidupan seseorang. Jika kalian melihatnya bersegeralah untuk shalat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Abbas berkata, “Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW shalat bersama para sahabat. Beliau berdiri lama sekitar membaca surat Al-Baqarah, kemudian ruku’ lama, lalu berdiri lama tetapi lebih pendek dari pertama. Kemudian ruku’ lama tetapi lebih pendek dari pertama. Kemudian sujud, lalu berdiri lama tetapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian ruku’ lama, tetapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian mengangkat dan sujud, kemudian selesai. Matahari telah bersinar. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT, keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang, jika kalian melihatnya, hendaknya berdzikir pada Allah SWT.” (HR Bukhari)

Demikianlah bayan ini dikeluarkan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, semoga Allah SWT selalu melindungi kita semua.

026.A.PP.01.2018 Bayan Shalat Gerhana