Oleh Ustadz Suhairi Umar

Perbuatan maksiat pertama yang dilakukan manusia terjadi kepada Nabi Adam a.s. Beliau melanggar larangan Allah untuk tidak mendekati salah satu pohon di surga. Sedangkan Iblis merayunya untuk menyentuh pohon itu dan makan buahnya. Iblis menyebutnya sebagai pohon keabadian (syajaratul khuldi).

Adam pada awalnya berhasil menepis rayuan iblis untuk mendekat ke pohon tersebut. Namun, akhirnya beliau luluh juga karena desakan istrinya Hawa. Adam dan Hawa akhirnya diturunkan ke dunia karena telah melanggar larangan Allah SWT.

Makna Maksiat

Maksiat secara bahasa lawan dari ta’at atau dalam bahasa lain maksiat disebut juga dengan dosa atau pembangkangan. Jika seorang hamba bermaksiat kepada Tuhannya, artinya dia menentang Allah SWT.

Maksiat terjadi karena manusia tidak sabar ketika menjauhi larangan Allah dan tidak kuatnya iman yang bersemayam di dalam dada. Sehingga syetan mudah mengombang-ambingkan pikiran dan nafsunya.

Maksiat kepada Allah terbagi dalam dua bagian: besar dan kecil. Perbuatan maksiat besar contohnya: syirik, zina, minum khamar, mencuri, dan perbuatan lain yang diancam dengan hukuman di dunia dan akhirat. Serta dapat merusak hati dan jasmani manusia. Sedangkan maksiat kecil adalah perbuatan buruk yang tidak diancam dengan hukuman yang berat di dunia maupun akhirat.

Efek Maksiat Nabi Adam a.s.

Satu-satunya dosa yang dilakukan nabi Adam a.s. adalah makan buah terlarang. Maksiat ini bukan diukur dari besar dan kecilnya dosa yang dilakukan Nabi Adam, melainkan dilihat dari perpsektif ketaatan yang total, dan kesabaran dalam menjauhi larangan, serta usaha yang kuat dalam mengalahkan Iblis.

Jika dilihat dari perbuatan semata maka, makan buah yang dilarang itu bukanlah dosa besar, namun sebagai seorang nabi dan manusia pertama yang hidup di surga dan dekat dengan Allah, ini merupakan sebuah kemaksiatan karena berani melanggar larangan Allah SWT. sehingga konsekuensinya adalah pengusiran dari surga.

Jika memahami peristiwa ini, kita berpikir, Nabi Adam melakukan satu kesalahan kemudian diusir dari surga. Sedangkan anak keturunannya biasa dan sering melakukan dosa, apakah pantas untuk masuk surga?

Iblis tidak mengenal rasa putus asa dalam menggoda manusia. Setiap waktu dan kesempatan Iblis selalu berbisik di telinga manusia agar mengikutinya dan melanggar larangan Allah SWT.

Dampak Maksiat

Berhati-hati dengan perbuatan maksiat dan jangan pernah meremehkannya karena dampaknya sangat besar dalam kehidupan pelakunya. Berikut delapan dampak perbuatan maksiat dalam kehidupan.

Pertama, perbuatan maksiat mendatangkan murka Allah SWT. Dalam sebuah hadis qudsi Allah SWT berfirman, “Aku Allah tidak ada Tuhan selain Aku. Jika Aku ditaati, Aku Rido, dan jika Aku rido, maka Aku memberi berkah, dan keberkahan-Ku tidak ada akhirnya. Tapi jika manusia maksiat kepada-Ku, Aku murka. Dan jika Aku murka, aku akan melaknatnya, dan laknat-Ku akan sampai pada tujuh turunan.” (H.R. Ahmad)

Kedua, mendatangkan kemarahan orang mukmin. Imam Hasan Basri berkata, “Hendaknya setiap kalian berhati-hati terhadap laknat orang mukmin dan kalian tidak menyadarinya. Yaitu bagi orang yang berbuat maksiat kepada Allah kemudian Allah meletakkan kemarahan itu di hati orang-orang beriman.”

Ketiga, pelaku maksiat terhalang dari ilmu. Bagi pelajar dan mahasiswa, maksiat sangat berbahaya bagi dirinya yang sedang menuntut ilmu. Karena maksiat dapat menghalanginya dari ilmu yang sedang dipelajarinya. Imam Syafi’i berkata dalam syairnya.

“Aku mengadu kepada Imam Waki’ (guruku) jeleknya hafalanku, kemudian beliau memintaku untuk menjauhi maksiat. Dan beliau mengabarkan bahwa ilmu itu adalah cahaya (dari Allah) dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada ahli maksiat.”

Keempat, pelaku maksiat terhalang dari rizki. Maksiat juga dapat menjauhkan manusia dari riskinya sendiri. Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya seseorang akan diharamkan dari rizkinya sebab perbuatan dosa yang ia lakukan.” (H.R. Ahmad)

Kelima, pelaku maksiat dijauhi manusia. Manusia yang sering melakukan maksiat sangat membekas pada perilakunya sehari-hari. Dalam ucapannya terlihat keburukannya dan dalam tindakannya juga dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya sehingga membuat mereka menjauh darinya.

Keenam, pelaku maksiat wajahnya gelap. Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya perbuatan maksiat itu meninggalkan bekas hitam di wajah, noda hitam di dalam hati, lemah pada fisik, sempit dalam rizki, dan kebencian dalam hati manusia.”

Ketujuh, hilangnya rasa takut kepada Allah dalam diri. Perbuatan maksiat akan menjauhkan manusia dari ketaatan kepada Allah SWT. Ketika seseorang menganggap remeh Tuhannya maka dia dengan mudah melakukan maksiat kepada-Nya. Namun jika manusia takut dan memuliakan Tuhannya niscaya dia akan menjauhi perbuatan maksiat. Allah berfirman, “Siapa yang direndahkan oleh Allah SWT, maka tidak akan ada yang memuliakannya.” (Q.S. Al-Hajj: 18)

Kedelapan, pelaku maksiat lidahnya kelu. Saat ajal menjemput, lidah pelaku maksiat akan terasa berat untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Meskipun syahadat itu pendek dan mudah diucapkan, namun bagi pelaku maksiat terasa berat karena terbelenggu oleh dosa-dosanya.

Maka, jangan pernah menganggap ringan perbuatan maksiat, karena efeknya sangat luar biasa bagi pelakunya. Dampak yang ditimbulkan perbuatan maksiat bukan hanya kerugian di dunia, namun yang lebih berat adalah kecelakaan di akhirat. Semoga kita semua dapat menjaga diri dari perbuatan maksiat dan dimudahkan melakukan ketaatan kepada Allah SWT.

Sumber:
Amru Khalid, Qisasul Anbiya’ ( Bairut, Darul Makrifah, 2006) cetakan kedua
Hudail Abdul Jabbar. Al-Farqu Baina Adz-Dzamb wa al-Ma’siyah www.mawdoo3.com

https://www.narasihikmah.com/