Oleh Ustadz Fauzi Bahreisy

Diantara nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat Islam, kita sadar bahwa nikmat Islam ini adalah nikmat yang besar yang Allah anugerahkan kepada kita. Kita banyak diberikan nikmat oleh Allah, nikmat sehat, nikmat kuat, nikmat hidup, dan segala fasilitas dunia, tetapi dari semua nikmat tersebut nikmat yang paling besar adalah nikmat Islam karena itu kita harus mensyukuri nikmat Islam ini sebagaimana kita mensyukuri nikmat-nikmat yang lain.

Dalam QS. Ibrahim ayat 7, Allah berfirman:
“Wa-idz taadz-dzana rabbukum la-in syakartum aziidannakum wala-in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiidun.” Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”

Bagaimana kita mensyukuri nikmat Islam ini?

Paling tidak ada 3 bentuk cara kita mensyukuri nikmat Islam, yakni:

Pertama, kita harus bangga sebagai muslim, merasa mulia sebagai muslim, menjadi seorang muslim adalah suatu kehormatan yang Allah berikan kepada kita. Allah SWT memilih di antara sekian banyak makhluk-Nya. Mereka yang diberi hidayah kepada Islam dan alhamdulillah kita termasuk orang yang dipilih oleh Allah mendapatkan Islam, mendapatkan cahaya Islam, kita menjadi seorang muslim. Begitu yang dirasakan para sahabat ketika mereka masuk Islam, ketika mereka berikrar, bersyahadat di hadapan Nabi SAW, kebanggan mereka beralih tadinya mereka bangga dengan keturunan, tadinya mereka bangga dengan kedudukan dan status sosial, tetapi ketika mereka mendapatkan hidayah Islam mereka bangga menjadi muslim.

Mereka mengatakan “Ayahku adalah Islam, aku tidak punya Ayah selain Islam, biarkan mereka bangga sebagai keturunan dari Kabilah Qais atau Tamim,” bahkan Salman Al-Farisi yang berasal dari Persia sebagai sebuah peradaban besar ketika itu di samping Romawi, tapi tatkala dia masuk kedalam agama Allah, dia memeluk Islam, kebanggaannya beralih kepada Islam.

Yang kedua, dengan mengamalkan Islam dalam kehidupan kita, tidak cukup hanya sekedar bangga menjadi seorang muslim, tidak cukup hanya merasa terhormat karena kita menjadi muslim, tapi Islam harus diamalkan dalam kehidupan kita, harus diterapkan dalam kehidupan, tunjukan bahwa kita muslim bukan hanya sekedar pengakuan.

Al Imam Hasan Al Basri Rahimahullah menyebutkan “Laisal iimaanu bittamanni, wala bittahalli, walaakin huwa maa waqqara fil qalbi wa soddaqahul ‘amal.” Iman itu bukan hanya sekedar angan-angan, bukan hanya sekedar pengakuan, bukan hanya sekedar identitas yang ada dalam akte atau KTP kita, tetapi iman itu adalah keyakinan yang tertanam kuat dalam hati kita dan dibuktikan dengan amal-amal kita, amal kita menunjukan bahwa kita muslim, tutur kata kita menunjukan bahwa kita muslim, karena seorang Islam dia tahu cara berbicara yang benar, dia tahu cara berbuat yang benar, dia tahu cara bermuamalah yang benar, semua sendi kehidupannya diwarnai dengan nilai-nilai sendi Islam, nilai-nilai Al-Qur’an, nilai-nilai Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Karena itu ketika Sayyidah Aisyah r.a ditanya tentang bagaimana akhlaknya Nabi kita Muhammad SAW, dengan tegas Sayyidah Aisyah r.a mengatakan, “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an, perilaku Rasulullah adalah Al-Qur’an, Al-Qur’an tidak sekedar dibaca, tidak hanya menjadi hiasan, tetapi Al-Qur’an mewarnai kehidupan Nabi kita Muhammad SAW.”

Begitu sejatinya seorang muslim, dia harus terwarnai oleh nilai-nilai Al-Qur’an, dengan nilai-nilai Islam, Islam harus ada dalam kehidupan, harus ada dalam realita, semua sendi kehidupan kita harus diwarnai dengan nilai-nilai Islam.

Dan yang ketiga, dengan memperjuangkan Islam, dengan membela Islam, dengan menegakan kalimat Allah SWT, dengan mendakwahkan Islam, dengan menyebarluaskan Islam, kita merasa bahwa Islam ini adalah karunia Allah, apakah bukan satu hal yang sangat penting dalam kehidupan kita kalau kita mendakwahkan Islam yang kita cintai ini kepada orang-orang yang berada disekitar kita? kalau kita sebarkan Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin ini kepada orang-orang disekitar kita, ini adalah tugas kita semuanya, bagaimana Islam itu sampai kepada mereka, bagaimana Islam itu menjadi sebuah keyakinan mereka, bagaimana Islam itu dipahami benar oleh mereka, kita sekarang merasa Islam disisihkan dalam kehidupan ini, Islam dimarjinalkan, Islam disingkirkan, Islam ditepikan seolah-olah Islam hanya ada di dalam wilayah Masjid, tetapi keluar dari Masjid tidak lagi kita pantas berbicara tentang Islam, hal ini tidak benar.

Islam harus dihadirkan dalam kehidupan kita, harus ditampilkan dalam semua sektor. Ketika kita bicara ekonomi maka Islam harus hadir dalam ekonomi, ketika kita bicara tentang politik Islam harus hadir dalam bidang politik dan itu adalah Islam yang kaffah yang diajarkan oleh Allah SWT, “ya ayyuha ladzhina amanu udkhulu fissilmi kaffah,” kita tidak bisa mengkotak-kotakan, kita tidak bisa memisahkan Islam dalam kehidupan kita tetapi kita diminta untuk masuk secara totalitas kedalam islam sekaligus kita tebarkan Islam dalam kehidupan kita.