Oleh Ustadz Fauzi Bahreisy

Saat itu, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Tsauban RA oleh Imam Abu Daud bahwa Nabi SAW menggambarkan kondisi umat Islam di masa sepeninggal beliau. Beliau berkata, “Sebentar lagi sejumlah kalangan akan mengerubuti kalian sebagaimana orang-orang yang sedang lapar mengerubuti hidangan.”

Sungguh satu gambaran yang memilukan dan menghentak banyak orang. Umat Islam menjadi santapan dan makanan yang dikerubuti banyak orang. Karenanya para sahabat yang berkumpul itu pun bertanya, “Apakah itu terjadi karena jumlah kita yang sedikit ketika itu wahai Rasulullah?”

Beliaupun menjawab, “Tidak. Jumlah kalian banyak. Namun kalian laksana buih seperti buih di lautan. Allah cabut dari dada musuh rasa gentar kepada kalian dan Allah tanamkan pada diri kalian sifat lemah (wahn).”

Penjelasan Nabi di atas membuat sahabat semakin heran. Tidak terbayang umat Islam yang saat itu sedang kuat dan berjaya, pada masa selanjutnya akan menjadi lemah tidak berdaya. Maka, mereka bertanya, “Apa yang dimaksud dengan lemah (wahn) tersebut?” “Cinta dunia dan takut mati,” jawab beliau.

Itulah penjelasan Nabi tentang faktor yang menyebabkan kelemahan umat. Rahasia dan sebabnya adalah cinta dunia. Inilah penyakit kronis yang paling mengkhawatirkan. Bila cinta dunia bersarang di hati, bersiaplah menjadi umat dan bangsa pecundang. Sebab, cinta dunia seringkali melenakan dan membutakan. Bukankah kekalahan di perang Uhud juga karena disebabkan oleh kecintaan terhadap dunia?

Bukankah mereka meninggalkan bukit yang disuruh untuk dijaga oleh Nabi setelah melihat harta rampasan perang yang berada di depan mata? Bukankah akhirnya mereka ditegur dalam Alquran, “Di antara kalian ada yang menginginkan dunia dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat.”

Salah orientasi dengan mencintai dunia dan melupakan akhirat memang bisa berakibat fatal. Dalam hadis lain Nabi mengingatkan, “Bukan kefakiran yang kukhawatirkan atas kalian. Namun aku khawatir bila dunia sudah berada di tangan kalian sebagaimana telah diberikan kepada orang-orang sebelum kalian. Akhirnya kalian saling bersaing memperebutkannya sebagaimana mereka. Maka hal itu membinasakan kalian sebagaimana sebelumnya juga membinasakan mereka.” (HR Bukhari Muslim).

Karena dunia banyak orang bermusuhan. Karena dunia, mereka memukul dan menganiaya saudara. Karena dunia, mereka tega menyiksa dan menghabisi nyawa. Karena dunia mereka menjual suara. Karena dunia, mereka rela membungkuk-bungkuk menghinakan diri tidak memiliki wibawa. Karena dunia, mereka tak berani berbicara. Karena itu, Hasan al-Bashri berkata, “Cinta dunia pangkal segala kejahatan.”

Nabi SAW mengajarkan sebuah doa agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir dalam hidup. “Ya Rabb jangan jadikan dunia sebagai perhatian terbesar kami dan tujuan akhir ilmu kami.” (HR at-Tirmidzi).