Oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan

Seluruh manusia pernah sakit, beriring dengan masa-masa sehatnya. Sakit itu salah satu ujian, sebagaimana ujian lainnya ada yang lulus dan ada yang gagal. Yang lulus ujian, Allah Ta’ala angkat derajatnya menjadi hamba terbaik:

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Shad: 44)

Yang gagal atas ujian, dia murka, maka Allah Ta’ala pun murka padanya.

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya ketika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya, barang siapa ridha maka ia mendapat keridhaan, dan barang siapa murka, maka ia mendapat kemurkaan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2396, hadits hasan)

Oleh karena itu, berbaik sangkalah kepada Allah Ta’ala disaat sakit. Imam Al ‘Aini menyebutkan:

“Berbaik sangka kepada Allah dan kaum muslimin adalah wajib.” (‘Umdatul Qaari, 20/133)

Maka, ingat-ingatlah barangkali penyakit itu penghapus dosa-dosa kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, gelisah, sedih, gangguan, murung, sampai-sampai duri yang menusuknya melainkan Allah akan jadikan itu sebagai penghapus kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641)

Atau bisa jadi, itu adalah hukuman disegerakan di dunia agar di akhirat dia sudah bebas, maka berbagialah.

“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah menyegerakan hukumannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya maka Allah menahan dosanya sehingga dia terima kelak di hari kiamat.” (HR. At Tirmidzi no. 2396, hasan shahih)

Beginilah cara mukmin memandang takdir Allah Ta’ala atas dirinya, walau takdir yang buruk, semua keadaan adalah baik baginya.

“Sungguh mengagumkan orang beriman itu, sesungguhnya semua perihalnya baik baginya, dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.