Oleh: Dra. Hj. Madihah Brik Bajri., M.I.Kom

Ada sebuah kisah, seorang raja ingin mengetahui keadaan etos kerja dan keterampilan rakyatnya. Raja  sebagai seorang pemimpin ingin mengetahui kebijakan-kebijakannya telah sampai di mana tentunya harus dipertanggungjawabkan, bukan saja kepada rakyatnya namun ada tanggungjawab yang lebih panjang yaitu di hadapan Allah yang Maha Akhkamul Hakimin.

Ia menyakini, tak satu pun dari hamba Allah yang akan dapat melepaskan diri hisab-Nya. Apakah ia telah mewarnai pola pikirnya bahwa bagaimana pun dunia ini dapat diraih, akhirat itu lebih baik. Ataukah ia masih berpola pikir sebaliknya?

Rasulullah pernah bersabda kepada sahabat beliau, “Aku telah diberi kesempatan melihat surga, dan ternyata di dalamnya ada pohon-pohon anggur yang buahnya amat sangat menarik. Bila aku jadi memetiknya lalu aku bagikan kepada kalian, hanya dengan sebutir anggur itu, kalian akan berkesimpulan bahwa ternyata dunia ini tidak ada apa-apanya.”  Dengan keterangan Rasulullah salallahu alaihi wasalam di atas, kita dapat berkesimpulan, alangkah kecilnya dunia ini, lebih-lebih bila diraih dengan langkah-langkah yang berakibat azab yang pedih dan kekal.

Raja itu meninggalkan Istananya dengan diiringi beberapa pengawal (orang kepercayaannya) namun tanpa memperlihatkan bahwa ia seorang raja. Hanya dengan kendaraan dan pakaian yang sederhana. Tentu saja bagi yang tidak mengenal tidak akan  mengetahui bahwa ia seorang raja.

Singkat cerita, sampailah mereka di sebuah desa. Ia bertemu dengan seorang yang telah tua. Orang itu dengan penuh semangat sedang menanam sebuah pohon kurma, yang bila diurus dengan serius baru berbuah setelah berumur tiga atau empat tahun. Kurma pun baru mulai berbuah yang tak mungkin mengeluarkan buah yang banyak (ajar-ajaran berbuahnya).

Raja itu bertanya, “Bagaimana kakek begitu bersemangat menanam pohon kurma ini, padahal kakek sudah sangat tua?”

Kakek itu menjawab, “Pohon-pohon kurma yang buahnya telah aku petik itu adalah tanaman orang-orang yang telah berlalu meninggalkan dunia ini, sedangkan tanamannya masih terus hidup dan berbuah. Tak sedikit orang yang menerima manfaat dan  jasa-jasa mereka. Mudah-mudahan kurma yang aku tanam ini akan mengikuti jasa-jasa mereka pula.”

Mendengar jawaban itu raja merasa kaget dan amat tertarik. Terasa sekali jawaban itu jawaban yang ikhlas. Lalu raja memerintahkan kepada pengawalnya agar menghadiahkan sejumlah uang dinar yang cukup untuk membeli sebidang kebun kurma. Sambil menerima hadiah tersebut si kakek berkata kepada raja, “Tuan, biasanya kurma itu baru berbuah setelah diurus dirawat dengan telaten) selama bertahun-tahun, sedangkan kurma yang aku tanam ini baru saja ditanam sudah berbuah dengan buah yang amat banyak.”

Mendengar kata-kata itu raja lebih tertarik lagi dan gembira, bahwa ia telah bertemu dengan orang yang terampil dan bijak. Kemudian ia memerintahkan lagi agar pengawalnya memberi lagi sejumlah uang yang sama banyak dan dihadiahkan kepadanya. Setelah menerima uang itu si kakek berkata lagi,“Tuan, biasanya kurma itu walau pun telah biasa berbuah, ia hanya akan berbuah setahun sekali. Kurma yang aku tanam ini ternyata baru selesai ditanam sudah berbuah dua kali.”

Banyak orang berpendapat bahwa amal shaleh itu hanya untuk mendapatkan pahala di akhirat, ada pun  di dunia ini hanya untuk berkorban. Setiap hidup ini tak ubahnya seperti seseorang yang sedang berjalan di sebuah jalan yang tak selalu rata dan tak ada banyak hal-hal yang diharapkan. Tak jarang pula, sesuatu yang diharapkan itu tidak dapat diselesaikan dengan tenaga kasar. Lebih dari itu, semua usaha hanya akan berujung doa kepada yang dianggap Mahakuasa.

Rasulullah saw. bercerita kepada para shahabatnya, bahwasanya dahulu ada tiga pemuda yang sedang tamasya (berjalan-jalan) menuju sebuah gua dan sesampainya di gua itu turun hujan lebat sekali. Mereka terpeleset dan masuk kedalam sebuah gua (kahfi). Tak sangka pula sebuah batu besar terbawa longsor dan menutupi pintu gua itu. Di antara mereka ada yang berkata, “Cermatilah amal-amal kalian yang telah kalian perbuat yang benar-benar lillah, kemudian berdoalah kepada-Nya. Mudah-mudahan Dia menyingkirkan batu itu. ”

Mulailah salah seorang di antara meraka ada yang berkata, “Ya Allah, kedua ibu -bapakku masih ada, namun telah tua renta, tak dapat lagi berusaha untuk mencukupi keperluan hidupnya. Lagi pula aku punya beberapa orang anak yang masih kecil-kecil. Setiap hari aku menggembalakan kambing untuk mendapatkan upah bagi biaya hidup mereka. Bila matahari telah tenggelam (magrib), aku segera pulang dan membawa sebotol susu. Akan tetapi, aku dahulukan kedua ibu-bapakku sebelum anak-anakku. Pada suatu hari, aku kembali telat hampir malam, ternyata aku dapati kedua orang tuaku telah tidur lelap. Aku membawa susu yang biasa aku bawa setiap hari. Aku tak berani memberikan susu itu kepada anak-anakku sebelum kedua orang tuaku meminumnya. Walau anak-anakku terus menerus merengek-rengek kepadaku sampai terbit fajar. Ya Allah, bila Engkau terima apa yang telah aku amalkan itu benar-benar kulakukan dengan mengharap ridha-Mu semata, kami mohon agar batu yang menutup itu dibukakan sampai kami dapat melihat langit.” Kemudian  Allah SWT menggeserkan batu itu sedikit sampai mereka dapat melihat langit.

Kemudian pemuda kedua berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai anak perempuan pamanku sebagaimana laki-laki mencintai perempuan, tetapi ia menolak kecuali bila aku dapat memberi uang sebanyak seratus dinar. Aku berusaha dan dapat mengumpulkan sejumlah tersebut, kemudian aku serahkan dan aku duduk di sampingnya. Tapi ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, bertakwalah kamu kepada Allah. Janganlah engkau membuka cincin ini.’ Setelah mendengar kata-kata itu, aku segera bangkit dan meninggalkannya. Ya Allah sungguh Engkau Maha Mengetahui, bahwa aku melakukan demikian itu adalah karena mengharap ridha-Mu. Kami mohon agar batu itu dibuka.” Ternyata batu itu bergeser lebar lebih dari semula.  

Lalu orang ketiga bercerita. “Ya Allah, aku memperkerjakan seorang pekerja dengan dengan membagi hasil tanaman yang ia kerjakan. Setelah selesai ia meminta haknya kepadaku lalu aku berikan haknya, namun ia tidak menerimanya karena tidak menyetujui bagian yang aku sediakan itu. Kemudian bagiannya yang tidak diterima itu aku tanamkan lagi sampai hasilnya menjadi seekor sapi dan pengembalanya. Lalu ia datang kembali untuk mengambil haknya itu dan berkata, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, jangan engkau lalim kepadaku.’ Akupun menjawab, ‘Tengoklah sapi itu dan pengembalanya.’ Namun ia berkata, ‘Janganlah engkau mempermainkan aku dan bertakwalah engkau kepada Allah.’ ‘Tidak,’ sesungguhnya aku tidak main-main, silahkan ambil sapi dan pengembala itu,’ kataku menjawab. Kemudian ia mengambilnya dan pergi. Ya Allah, sungguh Engkau amat mengetahui, bahwa bila apa yang aku lakukan itu benar-benar mengharap ridha-Mu, kami mohon agar batu itu terbuka sehingga kami dapat keluar dari gua ini.” Kemudian Allah SWT membukanya.” ( HR. Bukhari)