Oleh Ustadz Fauzi Bahreisy

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adh-Dhariyat, 51: 56).

Inilah tujuan penciptaan manusia di dunia. Artinya, manusia tidak dicipta hanya untuk bermain-main, bersenda gurau, dan tanpa tujuan. Setiap Muslim menyadari benar tujuan hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.

Karena itu, begitu semarak syiar-syiar ibadah dilakukan di berbagai tempat dalam komunitas umat Islam, mulai dari shalat, puasa, zakat, haji, sampai ibadah ghayru mahdah yang lain. Namun, yang menjadi pertanyaan: sejauh mana ibadah tersebut dilakukan? Apakah sudah memenuhi tujuan yang dimaksud? Atau, baru sekadar ibadah ritual dan kewajiban formal belaka?

Terkait itu, Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hendak memperingatkanmu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu renungkan.” (QS. Saba’, 34: 46). Menurut Syeikh Muhammad Shaleh ibn Muhammad al-Utsaymin, ayat di atas berisi dua perintah. Pertama, perintah dan peringatan untuk menghadap Allah SWT dengan ikhlas dan benar. Kedua, perintah untuk merenungkan sejauh mana kualitas ibadah yang dilakukan.

Karena itu, dalam pandangan beliau, ketika ibadah telah dilakukan, tidak boleh cepat puas lantaran ibadah itu telah ditunaikan. Namun, perlu ada semacam refleksi. Misalnya, apakah ibadah itu telah sesuai petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya?! Apakah dilakukan penuh penghayatan? Lebih dari itu, apakah ibadah tadi memberikan dampak dan pengaruh positif dalam kehidupan? Ini sangat penting agar ibadah yang dilakukan tidak hanya menjadi adat dan kebiasaan semata.

Sebab, setiap ibadah yang ditunaikan secara benar pasti memberikan dampak dan pengaruh baik dalam kehidupan. Sebagai contoh, terkait shalat, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya, shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut, 29: 45). Terkait puasa, Allah SWT berfirman, “Agar kalian menjadi orang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 183). Terkait zakat, Allah SWT berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka (dari sifat kikir dan cinta dunia).” (QS. At-Tawbah, 9: 103).

Dengan demikian, perintah merenungkan ibadah secara tidak langsung adalah perintah untuk senantiasa mengoreksi, meluruskan, dan memperbaiki ibadah itu agar mencapai tujuan dan nilai-nilai mulia yang diinginkan-Nya. Sebab, ibadah yang baik pasti berbuah akhlak dan moral yang baik pula.