Oleh Ustadz Zufar Bawazir

Marilah kita selalu tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT karena sesungguhnya orang-orang bertakwa, merekalah orang-orang yang akan berjaya di sisi Allah. Saat ini kita mengalami fase kehidupan di dunia, fase ini kita jalani bukan untuk selama-lamanya. Banyak orang silih berganti hingga tibalah saatnya kita yang berada dalam kehidupan dunia dan beraktivitas di dalamnya. Pada saatnya kita pun harus menghadapi pangggilan Allah SWT, kita semua adalah orang-orang yang akan dipanggil menuju kepada Allah SWT dan saat itu kita harus mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita.

Dalam QS. Al-Anbiya ayat 35, Allah Berfirman:
“Kullu nafsin dzaa-iqatul mauti wanabluukum bisy-syarri wal khairi fitnatan wa-ilainaa turja’uun.”
Artinya: Tiap-tiap (tubuh) yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu, dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan sementara, karena kita harus menghadapi kematian. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, bahkan awal dari pertanggungjawaban. Maka kita diuji oleh Allah “wanabluukum bisy-syarri wal khairi fitnatan.” Kami uji kalian dengan keburukan, ketidakberdayaan, ketidakmampuan, untuk memiliki sesuatu, kesedihan. Diuji pula oleh kebaikan, dengan harta, kekayaan, jabatan, dan lain-lain. Semua itu merupakan fitnah, ujian dan yang harus diingat “wa-ilainaa turja’uun” kepada Kami-lah kalian semua berpulang, dikembalikan.

Maka kehidupan dunia yang kita alami sekarang ini janganlah disikapi dengan sikap menjadikannya sebagai tujuan hidup dan ketika kita mendapatkan kesuksesan-kesuksesan, harta kekayaan dan sebagainya, seolah-olah kita sudah selesai. Tidak, bahkan kita harus mempunyai simpanan-simpanan di akhirat berupa amalan-amalan yang bisa menyelamatkan kita, bisa menjadi hal yang memuluskan jalan kita menuju surga-Nya.

Allah Berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 168:
“Wa balaunahum bil hasanati was sayyiati la’al-lahum yarji’un,” Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

Allah sudah menurunkan ajaran kebenaran melalui Rasul-Rasul yang diutusnya dan sampailah pada utusan terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW, yang tidak ada Nabi lagi setelahnya.

Maka inilah yang harus kita jadikan sebagai panduan dalam berjalan, apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah kemudian dijabarkan oleh para ulama untuk kemudian sampai kepada kita. Jadi, Untuk keselamatan kita, kita harus menapaki jalan ini. Setiap terjadi penyimpangan dalam diri kita, kemana kita kembalikan kebenaran itu? “la’allahum yarji’un,” agar mereka kembali, kembali pada kebenaran yang datang dari Allah SWT yang dibawa oleh Rasullullah SAW.

Ujian-ujian ini seringkali membuat orang melenceng, menyimpang. Orang diuji dengan kebaikan-kebaikan, kekayaan, kekuasaan, harta benda, orang bisa melenceng, orang bisa menyimpang, lupa akan aturan-aturan. Maka orang itu harus mengingat bahwa kehidupan ini tidak selamanya. Dengan mengingat kesementaraan di dunia ini, semoga dia kembali pada jalan yang lurus, hartanya dipergunakan untuk kebaikan, untuk membantu sesama, untuk melahirkan generasi yang mengabdi kepada Allah SWT, kekuasaannya digunakan untuk kemaslahatan, bukan untuk berbuat zalim, ilmunya dipakai untuk kebaikan-kebaikan.

Adapun orang yang diuji dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dengan kemiskinan, dengan bencana, dll. Kalau orang yang tidak kuat imannya, dia akan menyimpang, akan melenceng. Ketika berada dalam kemiskinan dia mencari yang selain Allah untuk dimintai hal yang dapat menjadikannya kaya. Dia pergi kedukun, ke paranormal, kalau sakit dia pergi ketempat-tempat yang tidak membawa kemaslahatan, bahkan akan menyesatkan dia dari kebenaran. Tapi kalau seseorang itu merasa bahwa kehidupan ini sementara maka ujian-ujian yang tidak menyenangkan sekalipun akan menjadikannya orang yang kembali kepada Allah, kembali pada kebenaran, kembali kepada kebaikan-kebaikan.

Kalau ini tidak dijaga maka yang terjadi adalah generasi-generasi lain lagi. Kelanjutan ayat tersebut, Allah berfirman:
“Fakhalafa min ba’dihim khalfun waritsuul kitaaba ya’khudzuuna ‘aradha hadzaal adna wayaquuluuna sayughfaru lanaa.”

Maka kemudian mereka diganti oleh generasi setelah mereka dengan suatu generasi yang mewarisi kitab, mewarisi kebenaran tetapi bukan untuk digunakan sebagai petunjuk hidup, tetapi mereka mengambil dari petunjuk yang ada dari kitab tersebut harta benda yang rendahan, harta benda yang picisan, dan mereka mengatakan “toh, nanti kita diampuni.” Kita tidak boleh main-main dengan kasih sayang Allah, dengan maha pengampunnya Allah. Jangan dipermainkan untuk kemudian seseorang dengan mudahnya menjadikan harta kekayaannya, kekuasaannya, untuk bermaksiat kepada Allah, jabatannya untuk berkhianat terhadap Allah, Rasul-Nya dan berkhianat terhadap umat, lalu dia mengatakan “toh, nanti kita akan diampuni”.

Ini adalah sesuatu yang menyimpang dari yang seharusnya diyakini. Kalau orang itu meyakini Allah maha pengampun, penyayang, seharusnya dia dalam kehidupan ini tidak menjadikan perjalanan hidupnya sebagai suatu jalan untuk berpisah dari Allah, menyimpang dari Allah, seharusnya ia menyadari bahwa ini adalah karunia dari Allah, haruslah digunakan untuk hal-hal yang diridhoi Allah SWT, yang membanggakan Rasulullah SAW di yaumil qiyamah kelak, karena setiap orang akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dilakukannya di dunia ini.

Dan kalau mereka mendapat keuntungan, akan terus mereka ambil, tidak habis-habisnya memanfaatkan Al-Kitab. Al-Qur’an yang Allah turunkan bukan untuk menjadi pedoman hidup tetapi untuk memperkaya diri, untuk mengambil kemanfaatan didunia ini dan kemudian menganggap “toh, semuanya akan berakhir dengan baik.” Maka Allah SWT mengingatkan, “alam yu’khadz ‘alaihim miitsaaqul kitaabi an laa yaquuluu ‘alallahi ilaal haqqa,” bukankah mereka telah diambil janji, sumpah, untuk tidak mengatakan atas nama Allah kecuali kebenaran?

Janganlah menggunakan nama Allah untuk suatu kesesatan, untuk suatu kejahatan, untuk suatu pengkhianatan, setiap orang terutama yang mewarisi Al-Kitab ini harus tau bahwa dia diperintahkan adalah untuk tidak mengatakan nama Allah kecuali yang benar. Bahkan mereka telah mempelajari apa yang ada didalamnya, jadi tidak layak apabila semuanya dikesampingkan sekedar hanya untuk mendapatkan kehidupan dunia yang tidak seberapa ini.

Allah berfirman: “waddaarul-aakhiratu khairul(n)-lil-ladziina yattaquuna afalaa ta’qiluun,” dan kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan dunia, bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang bertakwa akan mendapatkan kesenangan kehidupan di akhirat kelak, sementara mereka yang berani mengkhianati kebenaran yang datangnya dari Allah, tidak akan mendapatkan apa yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertakwa, “afala ta’qilun,” apakah kalian tidak berpikir?

Marilah kita berpikir bukan hanya untuk kehidupan dunia, tetapi bagaimana kita menyelamatkan diri kita di yaumil qiyamah kelak.

Sesungguhnya setelah kita mengetahui bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara maka kita perlu mengetahui bahwa sementaranya kita di dunia ini benar-benar singkat dan kehidupan akhirat itu begitu panjang, karena kehidupan akhirat itu tidak ada lagi kata akhir, isinya adalah kekekalan, keabadian, maka orang-orang beriman dan beramal shaleh akan menikmati kehidupan yang kekal abadi dalam surga dan orang-orang yang mengingkari kebenaran yang datangnya dari Allah SWT, mereka akan kekal di neraka. Naudzubillah min dzalik.

Marilah kita manfaatkan kehidupan kita yang sebentar, yang semakin hari semakin terlihat bahwa tidak ada kepastian bahwa seseorang harus menunggu tua untuk mengalami kematian, bahwa seseorang harus mengalami sakit untuk mengalami kematian, itu bukan rumus, tapi kematian itu pasti datang tanpa melihat seseorang itu tua atau muda, apakah seseorang itu sehat atau sakit, ketentuannya datang dari Allah SWT.

Maka setiap kita harus selalu dalam keadaan siaga, jangan sampai kita melalaikan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT, dengan menggunakannya untuk hal-hal yang dimurkai Allah SWT. Karena semua yang kita lakukan, apa yang kita ucapkan akan tercatat, terekam dengan baik, yang kita semua nanti akan menyaksikan rekaman itu.

Kalau kita termasuk orang-orang yang beriman, yang beramal shaleh bisa jadi rekaman-rekaman itu tidak dipertontonkan di depan khalayak ramai, saat manusia semua dibangkitkan di yaumil qiyamah tapi hanya dirahasiakan oleh Allah SWT, sehingga mungkin bagi Allah untuk menghapuskannya.

Tetapi orang-orang yang zalim, durhaka, menentang Allah dan Rasulnya maka keburukan-keburukannya akan dipampang, disampaikan, diumumkan, dihadapan seluruh manusia dan jin yang ada pada saat itu, kemudian rasa malu akan kejahatan-kejahatannya, penentangan terhadap Allah, penghinaanya terhadap syariat, terhadap Rasulullah, dipamerkan dan dia merasa ingin semuanya itu dirahasiakan tetapi tidak ada kerahasiaan yang diberikan kepada orang-orang yang zalim.

Maka dari itu ketika kita merasa ada salah dan dosa, selalulah meminta ampun kepada Allah SWT, merasa hina di hadapan Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat-nikmat kepada kita, banyak-banyaklah meminta agar kita tidak dihinakan di yaumil qiyamah, jadilah orang yang selalu berharap karunia Allah, semoga Allah SWT memberikan perlindungannya kepada kita dari keburukan, dari dipermalukan, dari dipertontonkan dosa-dosanya untuk kemudian diampuni oleh Allah SWT. Aamiin.