Jakarta — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan, Prof. Dr. Faisol Nasar bin Madi, M.A, menegaskan pentingnya nilai Himayat wa Khadimul Ummah dalam literasi digital ulama. Nilai ini menjadi landasan moral di era teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Prof. Faisol menyampaikan hal tersebut saat membuka Bimbingan Teknis (BIMTEK) Pemanfaatan Teknologi Digital AI untuk Bekerja, Mengajar, dan Belajar. Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI menyelenggarakan kegiatan ini di Jakarta, Sabtu (27/12/2025).

Sekaligus sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Al Irsyad Al Islamiyyah, Prof. Faisol menilai ulama harus beradaptasi dengan teknologi. Ia menyebut perkembangan AI tidak bisa dihindari dalam kehidupan umat.

“Teknologi adalah keniscayaan zaman. Ulama harus memanfaatkannya untuk dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat,” kata Prof. Faisol.

Ia menjelaskan bahwa AI dapat membantu kerja dakwah dan pendidikan Islam. Namun, ulama harus mengendalikannya dengan nilai Islam. Tanpa kendali, teknologi berisiko memicu disinformasi dan penurunan moral.

“AI hanya alat bantu. Manusia menentukan arah dan dampaknya,” ujarnya.

Prof. Faisol menambahkan bahwa konsep Himayat wa Khadimul Ummah menuntut ulama melindungi umat. Ulama juga harus melayani kemajuan umat. Di era digital, ulama perlu hadir di ruang informasi. Mereka harus aktif membuat konten dakwah yang mendidik.

Kegiatan BIMTEK ini juga dihadiri sejumlah tokoh Pimpinan Pusat Al Irsyad Al Islamiyyah. Hadir Ketua I PP Al Irsyad Al Islamiyyah, Prof. Dr.-Ing. Ir. Misri Gozan, M.Tech., IPU., ASEAN Eng, serta Sekretaris Majelis Pendidikan dan Pengajaran PP Al Irsyad Al Islamiyyah, Ir. Abdullah Syuaib, S.T., M.Pd.

Pesantren dan Peran Ulama di Era AI

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendis Kementerian Agama RI, Dr. H. Basnang Said, S.Ag., M.Ag., mendorong pesantren agar melek teknologi. Ia menegaskan pesantren tidak boleh tertinggal dalam transformasi digital.

“Pesantren harus menjadi contoh literasi digital. Santri perlu menguasai teknologi agar bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Basnang menilai AI dapat memperluas dakwah pesantren. Teknologi juga membantu pengelolaan pendidikan yang lebih efisien.

Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI, Dr. Kartini, S.Ag., M.Pd., menekankan pentingnya etika dalam penggunaan teknologi. Ia mengingatkan bahwa AI tidak boleh menggantikan peran spiritual manusia.

“Teknologi harus berjalan bersama adab dan tanggung jawab,” kata Kartini.

Ia menambahkan bahwa MUI terus memperkuat kaderisasi ulama. Program tersebut mendorong ulama agar adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.

Selain pemaparan materi, peserta mengikuti pelatihan praktis AI. Irfana Steviano bersama tim memandu pelatihan tersebut. Peserta mempraktikkan pembuatan konten pembelajaran dan dakwah digital berbasis AI.

Melalui kegiatan ini, MUI menegaskan arah transformasi digital ulama. Literasi digital harus berakar pada nilai Himayat wa Khadimul Ummah. Pendekatan ini menjaga dakwah tetap relevan dan bermakna di era AI.