Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan
Anggota Majelis Dakwah
Al-Irsyad Al-Islamiyyah

I. Mukadimah

Salah satu kewajiban bagi seorang muslim adalah zakat. Keberadaannya digandeng dengan shalat dalam 82 ayat. (Fiqhus Sunnah, 1/327)

Telah diketahui bahwa zakat adalah salah satu rukun Islam, dan mengingkari kewajibannya adalah murtad. Ada pun tidak berzakat karena bakhil, tapi dia masih meyakini kewajibannya, maka dia berdosa besar namun masih muslim. (Al Mausu’ah Al Fiqiyyah Al Kuwaitiyah, 23/230. Fiqhus Sunnah, 1/333). Menurut Syaikh ‘Utsaimin, telah shahih dari Imam Ahmad, bahwa orang yang tidak zakat karena bakhil adalah kafir, seperti orang yang tidak shalat karena malas, namun yang benar adalah tidak kafir. (Syarhul Mumti’, 6/5)

II. Sejarah Pensyariatannya

Zakat sudah diwajibkan sejak sebelum masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Ta’ala berfirman kepada kaum Bani Israel:

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’  (QS. Al Baqarah (2): 43)

 Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah  mengatakan, bahwa zakat diwajibkan pada masa awal Islam secara mutlak, yakni tidak ada batasan pada harta tertentu dan belum ada ukuran takaran yang mesti dikeluarkan. Lalu, pada tahun kedua hijriyah –menurut pendapat yang masyhur- zakat  barulah tetapkan pada harta tertentu saja dan dengan takaran tertentu pula. (Fiqhus Sunnah, 1/328)

Kemudian, dalam syariat Islam, zakat secara umum ada dua macam; zakat fitrah (zakatul fithri) dan zakat maal. Kali ini kita akan bahas secara khusus zakat fitrah.

III. Definisi

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:

Yaitu zakat yang diwajibkan karena berbuka dari Ramadhan (maksudnya: berakhirnya Ramadhan). Dia wajib bagi setiap pribadi umat Islam, anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak. (Fiqhus Sunnah, 1/412)

Beliau juga mengatakan:

Wajib bagi setiap muslim yang merdeka, yang memiliki kelebihan satu sha’  makanan bagi dirinya dan keluarganya satu hari satu malam. Zakat itu wajib,  bagi dirinya, bagi orang yang menjadi tanggungannya, seperti isteri dan anak-anaknya, pembantu yang melayani urusan mereka, dan  ia memberikan nafkah bagi mereka. (Ibid, 1/412-413)

Dari penjelasan ini, kita dapat beberapa kesimpulan:
-Zakat fitrah itu terikat oleh waktu yaitu berakhirnya Ramadhan dan datangnya Syawwal.
-Zakat fitrah itu wajib bagi semua muslim siapa pun itu, dewasa, anak-anak, pria, wanita, budak, merdeka, penduduk kota dan desa, selama dia punya kelebihan makanan pokok sebanyak satu sha’. Dengan kata lain, bagi yang sama sekali tidak punya kelebihan itu, maka tidak wajib baginya.
-Bagi yang punya kelebihan itu, dia wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya, istrinya, anaknya, dan siapa pun yang hidupnya menjadi tanggungannya.

IV. Hukumnya

            Mayoritas ulama mengatakan zakat fitrah adalah wajib, berdasarkan hadits:

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri

pada bulan Ramadhan untuk setiap jiwa kaum muslimin, baik yang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, anak-anak atau dewasa, sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’  biji-bijian. (HR. Muslim No. 984)

Adapun sebagian Malikiyah generasi belakangan mengatakan hukumnya sunnah. Pendapat ini juga dianut oleh penduduk Iraq, dan katanya: (zakat fitrah) sudah dihapus oleh zakat (maal). (Bidayatul Mujtahid, 2/40)

V. Untuk Siapa Dibagikannya?

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang objek penerima zakat  fitri,  menjadi tiga kelompok:

Pertama. Pendapat jumhur ulama bahwasanya dibolehkan pembagian zakat fitri sama seperti Pembagian zakat mal (yaitu kepada delapan asnaf).       

Kedua. Adapun Malikiyah dan satu riwayat dari Imam Ahmad, dan dipilih oleh Ibnu Taimiyah bahwasanya zakat fitrah dikhususkan penyalurannya khusus untuk fakir dan  miskin.

Ketiga. Sedangkan Syafi’iyah mengatakan bahwa pembagian zakat fitri wajib kepada delapan asnaf atau seadanya yang mereka temui dari mereka. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 23/344)

Pendapat mayoritas ulama nampaknya sesuai dengan ruh zakat, yaitu agar nikmat harta (termasuk zakat fitrah)  dirasakan kepada delapan asnaf tersebut, namun khusus di hari raya maka kepada fakir dan miskin adalah lebih utama agar mereka tidak meminta-minta saat itu.  Sebagaimana hadits:

Penuhilah kebutuhan mereka hari ini agar tidak keliling meminta-minta. (HR. Al Baihaqi, Sunan al Kubra no. 7739. Dalam sanadnya terdapat Abu Ma’syar Najih, Beliau didhaifkan oleh Bukhari, an Nasa’i, Ibnu Ma’in. Lihat Nashbur Rayah, 2/432)

VI. Waktu Dikeluarkannya Zakat Fitrah dari Muzakki ke Mustahiq

Syaikh Abdurrahman al Juzairi Rahimahullah menjelaskan:

1.Madzhab Hanafi, membolehkan mengawali bayar zakat fitrah, bahkan di waktu kapan pun.

“Waktu wajib mengeluarkan zakat fitri (fitrah) adalah sejak terbitnya fajar hari ‘Idul Fitri, dan SAH membayarkannya diawal dan diakhir waktu, karena waktu menunaikannya itu ada jangka waktunya, seandainya dikeluarkan di waktu kapan pun sesuai kehendaknya maka dia telah menunaikannya pada waktunya bukan qadha, sebagaimana ibadah-ibadah lain yang waktunya lapang. Hanya saja memang disukai (sunnah) dikeluarkan sebelum keluar menuju lapangan (shalat Id), berdasarkan hadits: “Penuhilah kebutuhan mereka, jangan sampai mengemis di hari ini (Hari raya).”

2.Malikiyah, tidak sah zakaat fitrah dikeluarkan lebih dari dua hari sebelum hari raya

Dianjurkan mengeluarkannya setelah subuh di hari Id, sebelum pergi shalat Id, dibolehkan mengeluarkannya sebelum hari raya baik sehari atau dua hari, dan tidak boleh lebih dari dua hari menurut pendapat yang resmi (dalam madzhab Malik).

3.Madzhab Syafi’i, membolehkan membayarnya di awal Ramadhan

Waktu wajibnya adalah bagian akhir dari Ramadhan dan awal dari Syawwal. Disunnahkan mengeluarkannya di hari awal Id setelah shalat subuh sebelum shalat Id-, dan dimakruhkan mengeluarkannya setelah shalat id sampai terbenam matahari kecuali karena udzur seperti menunggu adanya orang faqir, dan semisalnya, dan diharamkan mengeluarkannya setelah tenggelamnya matahari hari pertama (Syawwal), kecuali ada udzur seperti ketiadaan mustahiq, dan

bukan termasuk udzur menunggu mustahiq yang jaraknya dekat, dan boleh mengeluarkannya sejak awal bulan Ramadhan di hari apa pun dia mau.

4.Madzhab Hambali, mengatakan tidak boleh mengawali bayar zakat fitrah lebih dari dua hari sebelum hari Id

Lebih utama mengeluarkan zakat fitrah itu di hari raya sebelum shalat Id, dimakruhkan mengeluarkannya setelah shalat Id, dan diharamkan mengeluarkannya di akhir hari Id, jika dia mampu mengeluarkannya di hari itu, maka dia wajib qadha. Sah dilakukan dua hari sebelum Id, dan tidak sah dikeluarkan sebelum dua hari dari hari raya. (Lihat semua dalam Al Fiqhu ‘alal Madzaahib al Arba’ ah, 1/569-570)

Kesimpulan:
-Empat madzhab sepakat, bahwa setelah subuh sampai menjelang shalat Id adalah waktu paling utama.
-Mereka sepakat sehari atau dua hari sebelum shalat Id adalah sah, sebagian mengatakan boleh, sebagian mangatakan sunnah.
-Mereka tidak sepakat tentang lebih dari dua hari sebelum hari Id, termasuk di awal Ramadhan, ada yang mengatakan tidak sah (Maliki dan Hambali), dan ada yang mengatakan sah (Hanafi dan Syafi’i).

Jika kita mengeluarkannya  di waktu yang disepakati empat madzhab maka itu lebih utama dan hati-hati. Tapi, jika kondisinya tidak memungkinkan, atau karena suatu maslahat, maka tidak mengapa membayarkannya sesuai madzhab yang berlaku di negerinya.

Imam Abu Bakar Al Khathib Al Baghdadi berkata:

Dari Abu Ubaidah, dia berkata: Berkata Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu:  Putuskanlah (hukum) dengan keputusan yang biasa kalian putuskan (di negeri kalian). Sungguh, saya tidak suka dengan perselisihan sampai saya mendapati manusia memiliki jamaahnya sendiri-sendiri, atau saya mati sebagaimana matinya para sahabatku. (Tarikh Baghdad, 8/42)

VII. Zakat Fitrah Dengan Uang

Dalam masalah ini para ulama kita berbeda pendapat.

Pertama. Mayoritas fuqaha mengatakan tidak boleh zakat fitrah dengan uang. Tertulis dalam Al Mausu’ah:

“Menurut pendapat Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, bahwasanya tidak boleh membayarkan harganya (pakai uang, pen), karena tidak adanya nash tentang hal itu, dan karena menentukan harga  dalam urusan hak-hak manusia tidak diperbolehkan kecuali dengan keridhaan mereka, dan zakat fitri bukanlah menjadi milik seseorang sampai diperbolehkan oleh keridhaannya.”      (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 23/344)

Dasar pendapat ini adalah:

“Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  mewajibkan zakat fitri pada bulan Ramadhan untuk setiap jiwa kaum muslimin, baik yang merdeka atau budak laki-laki atau perempuan, anak-anak atau dewasa, sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’  biji-bijian.” (HR. Muslim No. 984)

Hadits ini menunjukkan bahwa yang mesti dikeluarkan dalam zakat fitri adalah makanan pokok pada sebuah negeri, sebagaimana contoh dalam hadits ini. Maka, menggunakan nilai atau harga dari makanan pokok merupakan pelanggaran terhadap sunah ini. Demikian menurut pendapat golongan ini.

Kedua. Mengeluarkan zakat fitrah dengan uang adalah boleh dan sah, apalagi jika itu mendatangkan maslahat bagi mustahiq. Ada tiga dalil yang mendasari mereka, yaitu:

-Hadits yang berbunyi:

Penuhilah kebutuhan mereka hari ini agar tidak keliling meminta-minta. (HR. Al Baihaqi, Sunan al Kubra no. 7739. Dalam sanadnya terdapat Abu Ma’syar Najih, Beliau didhaifkan oleh Bukhari, an Nasa’i, Ibnu Ma’in. Lihat Nashbur Rayah, 2/432)

Hadits ini tidak menunjukkan jenisnya, maka pemenuhan kebutuhan mereka bisa diwakili dengan uang atau makanan pokoknya.  Imam Abul Hasan Al Mawardi Rahimahullah berkata:

Memenuhi kebutuhan dapat terjadi dengan membayarkan harganya, sama halnya dengan membayarkan yang asalnya. (Imam Abul Hasan Al Mawardi, Al Hawi fi Fiqh Asy Syafi’i, 3/179)

-Perbuatan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Abu Ishaq As Sabi’i -seorang tabi’iy yang pernah berjumpa 30 sahabat Nabi  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  berkata :

Aku mendapati mereka (para sahabat) menunaikan zakat di bulan Ramadhan dalam bentuk mata uang (dirham) yg senilai dg makanan (1 sha’). (HR. Ibnu Abi Syaibah, dalam al Mushannaf, 3/65)

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah mengatakan:

Dalil yang menunjukkan bolehnya menyerahkan harga (zakat fitrah) adalah apa yang disebutkan oleh Ibnul Mundzir sebelumnya, bahwa dahulu para sahabat nabi membolehkan mengeluarkan 1/2 sha’ gandum, karena dianggap senilai dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ sya’ir. Oleh karena itu Muawiyah berkata: “Saya melihat dua mud gandum Syam itu senilai harganya dengan satu sha’ kurma.” (Fiqhuz Zakah, Hal. 896)

-Dari sisi fiqhul waaqi’ (fiqih realita).

Bahwasanya kondisi zaman ini menuntut hal tersebut. Seringkali mustahiq lebih membutuhkan uang dibanding makanan pokoknya, apalagi di daerah pedesaan mereka sudah melimpah beras, mereka sudah cukup itu,   sehingga kebutuhan mereka lebih mendasak adalah uang. Dari sisi maqashid syariah maka dengan uang jelas dibolehkan.

Dalam Al Mausu’ah tertulis:

Pendapat kalangan Hanafiyah adalah bolehnya membayarkan harga dari zakat fitri, bahkan itu lebih utama,  agar faqir miskin   lebih mudah  membeli  apa yang dia inginkan di hari raya sebab dia tidak lagi membutuhkan gandum, tetapi yang dia butuhkan adalah pakaian, atau daging, atau lainnya. Memberikannya gandum, akan menyulitkannya yang dengannya dia mesti berkeliling pasar untuk menjual kepada orang yang mau membelinya, sekalipun terjual dia menjualnya dengan harga rendah dari harga sebenarnya, semua ini jika dalam keadaan mudah dan gandum banyak ditemukan di pasar. Ada pun jika dalam keadaan sulit, ketersediaan gandum begitu sedikit di pasar-pasar, maka membayarkan zakat fitri dengan makanan adalah lebih utama dibanding dengan  harganya, dalam rangka menjaga maslahat orang faqir. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 23/344-345)

Pendapat kebolehan zakat fitrah dengan uang diikuti oleh para sahabat seperti  Muawiyah, Mughirah bin Syu’bah, tabi’in seperti Umar bin Abdul Aziz, Hasan al Bashri, Abu Hanifah dan kedua muridnya, tabi’ut tabi’in seperti Sufyan ats Tsauri, para imam hadits seperti Bukhari dan Muslim, serta fuqaha dari Hanafi, sebagian Maliki seperti Asyhab dan Ibnu Habib, Syafi’iyah seperti Abul Hasan al Mawardi, dan Hambaliyah seperti Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Ibrahim (guru dari Syaikh Ibnu Baaz).

Sebagai nasihat, nampaknya perlu kita dengar dari Syaikh Husamuddin ‘Afanah Hafizhahullah:

Tidak benar perkataan yang menyebut bahwa orang yang mengeluarkan zakat fitri dengan uang adalah tidak sah. Masalah ini adalah zona debatable ulama. Masalah yang masih diperselisihkan ulama, jika seseorang mengambil salah satu pendapat ulama mujtahid maka itu tidak masalah, Insya Allah. Bolehnya mengeluarkan zakat fitri dengan uang adalah pendapat segolongan ulama mu’tabar. (Yas’alunaka ‘an Ramadhan, Hal. 229)

VII. Berapakah Ukuran Satu Sha’?

Satu sha’ itu empat mud. Satu mud  – kata Imam Ash Shan’ani- yaitu sepenuh dua telapak tangan orang dewasa berukuran sedang dengan telapak tangan yang dibentangkan (madda), dari sinilah diambil kata mud. (Subulus Salam, 1/49). Jadi, satu sha’ itu adalah empat kali dari sepenuh dua telapak tangan orang dewasa yang disatukan itu. Inilah sederhananya.

Namun, tidak ada kata sepakat para ulama tentang ukuran pasti satu sha’ saat diubah ke takaran lainnya. Ini disebabkan perbedaan bendanya, antara kurma, biji-bijian, gandum, dan beras kalau di Indonesia. Imam an Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

Telah kesulitan membuat patokan takaran satu sha’ dengan timbangan, sebab satu sha’ yang dikeluarkan di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah takaran yang diketahui, dan berbeda-beda ukuran timbangannya, yang disebabkan perbedaan benda yang dikeluarkan seperti biji-bijian, kacang-kacangan, dan lainnya. (Raudhatuth Thalibin, 2/302)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah mengatakan, bahwa menurut Hanafiyah satu sha’ adalah 3800 gram (3,8 kg), sedangkan  Malikiyah satu sha’ adalah 2700 gram (2,7 kg). Sedangkan Syafi’iyyah dan Hambaliyah adalah 2751 gram (2,751 kg). (Al Fiqh al Islami wa Adillatuhu, 2/910-911)

Syaikh Umar bin Muhammad bin Thaha  Ba’alawi  dalam Tasydid al Bunyan (madzhab Syafi’i),  menyebutkan bahwa satu sha’ kurang lebih 2,5 kg. (Mukhtashar Tasydid al Bunyan, Hal. 205)

Keragaman ini mungkin membuat bingung. Jika kita mau aman memang ambil yang tertinggi atau rata-rata, jika ternyata lebih maka  itu tidaklah mengapa, bahkan bagus menurut  banyak ulama. Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah berkata:

Adanya tambahan pada  sedekah wajib adalah tidak masalah, bahkan itu  lebih baik, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran Al Karim: “Siapa  yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itu lebih baik bagi dirinya”, ayat ini tentang fidyah puasa untuk orang miskin. (Fiqhuz Zakah, Hal. 888)

Demikian. Wallahu A’lam