Oleh Ustadz Fauzi Bahreisy

Ada satu kata yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kita, satu kata yang dapat membuat manusia bahagia tetapi di satu sisi yang lain juga bisa membuat manusia celaka, satu kata yang bisa mendatangkan keselamatan di dunia dan di akhirat. Tapi sebaliknya juga bisa mengantarkan pada petaka di dunia dan di akhirat. Satu kata itu adalah “Al Hubb” yaitu cinta.

Cinta adalah anugerah dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Zuyyina lin nasi hubbusy syahwati minan nisa-i..” (QS. Ali-Imran:14). Luar biasa Allah SWT menghiaskan pada manusia kecintaan kepada anak, kecintaan kepada orang tua, kecintaan kepada harta, kecintaan kepada binatang, kecintaan kepada tanaman, ladang, dst. Semua adalah diberikan oleh Allah SWT. Kecintaan tersebut berasal dari Allah SWT yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita menata perasaan cinta yang diberikan Allah sebaik-baiknya. Agar menjadi cinta yang benar, agar menjadi cinta yang halal, menjadi cinta yang di ridhoi Allah SWT. Bukan menjadi cinta yang haram, cinta yang dimurkai yang mendatangkan petaka untuk kita semuanya.

Seorang mukmin memiliki perasaan yang sangat besar, tapi cintanya tertuju kepada Allah SWT. Allah SWT menyebutkan didalam Al-Qur’an: “Wallazina amanu asyhaddu hubbalillah”. Orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah SWT. Orang-orang yang beriman cintanya yang paling utama dan paling puncak adalah kepada Allah SWT melebihi cinta yang lainnya. Cinta kepada Allah adalah sesuatu yang melekat pada diri setiap mukmin, ada 3 minimal yang membuat orang mukmin cinta kepada Allah SWT:

Yang pertama, Allah SWT Maha Indah, Allah SWT senang kepada yang indah-indah karena kalau kita melihat keindahan di sekitar kita, kalau kita menyaksikan pemandangan indah di sekitar kita, kalau kita menyaksikan makhluk Allah yang indah manusia yang tampil dengan keindahannya, dengan keanggunannya, dengan ketampanannya, dengan kecantikannya, semua itu bersumber dari Allah SWT.

Dia merupakan percikan dari keindahan Allah SWT dan Allahu Akbar setiap mukmin manakala dia masuk ke dalam surga Allah SWT, Allah akan memperlihatkan keindahannya yang hakiki. Allah SWT akan menjadikan keindahan tersebut, terlihat oleh setiap mukmin yang masuk ke dalam surga Allah SWT. Sehingga setiap mukmin akan terkesima, akan takjub dengan Allah dan Allah menyebutkan dalam Al’Qur’an: “Wujuuhuy yauma-idzin naadhirah.” (QS. Al-Qiyamah:22).

Bahwa wajah-wajah nanti akan ceria, akan gembira, senang, karena dia bisa menatap wajah Allah SWT. Hal yang lain yang membuat cinta seorang mukmin kepada Allah sangat besar adalah karena sifat-sifat Allah yang indah, Allah Ghofur, Allah Rahman, Allah Rahim, Allah senantiasa memberikan ampunan kepada setiap hamba yang melaukan kesalahan. Allah SWT membuka peluang kepada setiap manusia yang melakukan dosa, untuk kembali, bertaubat, beristighfar, meminta ampunan kepada Allah SWT. Allah yang mendengar keluh kesah hamba, Allah yang siap untuk menerima dan mengabulkan permintaan hamba, luar biasa sifat-sifat Allah SWT.

Kemudian yang lainnya juga, Allah SWT adalah dzat yang menghadirkan cinta kepada diri kita, Allah yang menghadirkan perasaan cinta tersebut kedalam hati kita, luar biasa nikmat dan karunia Allah. Bayangkan hidup tanpa cinta akan terasa hambar. Karena itu, jika kita memahami betul tentang hal ini maka kita akan merasakan kecintaan yang besar kepada Allah SWT.

Kemudian selanjutnya cinta seorang mukmin seTelah kepada Allah adalah kepada Nabi MUhammad SAW. Setiap mukmin akan mencintai Rasulullah SAW karena perjuangan beliau, karena pengorbanan beliau, karena hidup beliau dipersembahkan untuk umatnya sehingga seorang mukmin sudah selayaknya mencintai Rasulnya yakni Nabi kita Muhammad SAW.

Sesudah itu setiap mukmin juga mencintai keluarganya, mencintai orang tuanya Ayah dan Ibunya, mencintai istrinya, mencintai anaknya, mencintai setiap mukmin, bahkan mencintai semua manusia yang berada di sekitarnya karena itu adalah fitrah yang diberikan Allah SWT.

Contoh dari hal ini adalah Nabi Kita Muhammad SAW, Rasul SAW mencintai istrinya dengan kecintaan yang tulus dan jujur, Rasulullah mencintai Khadijah RA dengan kecintaan yang luar biasa. Bahkan ketika Khadijah telah meninggal dunia tidak lupa Rasulullah kepada Khadijah, tetap Rasulullah menyanjung Khadijah, Rasul SAW memberikan pujian kepada Khadijah RA, bahkan sering juga Rasulullah SAW memberikan hadiah kepada kolega dan sahabat-sahabat Khadijah RA. Ini adalah kecintaan yang tulus yang ditunjukan oleh Nabi kita Muhammad SAW.

Rasul SAW juga mencintai anaknya di antaranya Fatimah RA, bagaimana Rasul SAW selalu menyambut Fatimah dengan sambutan yang hangat, bahkan beliau juga pernah meletakan selendang atau kainnya untuk menjadi tempat duduk Fatimah RA dipeluknya diciumnya Fatimah RA.

Demikian juga terhadap cucu beliau Hasan dan Husein. Rasul SAW mencintai mereka, memeluk mereka, menggendong mereka, bahkan ketika ada seorang Arab Badui Al Akra’i Bin Habbs bertanya kepada Rasul SAW: “Ya Rasulullah, saya punya sepuluh anak tidak pernah saya perlakukan semacam itu, tidak pernah saya menciumnya semacam itu.” Rasul SAW menyebutkan, “Siapa yang tidak menyayangi dan mencintai dia tidak akan mencintai dan disayangi oleh Allah SWT.

Karena itu, sudah selayaknnya kita mencontoh Rasul SAW. Cinta ini adalah cinta yang halal, cinta ini adalah cinta yang bersih, yang suci, cinta yang sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasulillah SAW. Cinta semacam inilah yang akan mendatangkan kebahagiaan, tidak hanya bahagia di dunia tetapi insyaAllah dia akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat nanti di dalam Jannah-Nya Allah SWT.

Tetapi sebaliknya, apabila cinta tersebut bukan di atas bimbingan petunjuk Allah SWT, tetapi cinta yang haram, cinta yang dimurkai oleh Allah SWT, cinta yang didasarkan pada nafsu, cinta yang dikendalikan oleh syaitan, alih-alih dia mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan justru sebaliknya dia tidak akan mendapat kepuasan tidak akan pernah merasakan kebahagiaan, tidak akan pernah merasa tenang jangankan di dunia nanti di akhirat dia akan mendapatkan siksa dan azab dari Allah SWT.

Maka dari itu mudah-mudahan kita diberikan oleh Allah kebahagiaan berupa cinta yang benar, cinta yang halal, cinta yang diridhoi Allah SWT. Aamiin.