Oleh Ustadz Fauzi Bahreisy

Satu waktu Nabi SAW mengungkapkan satu pelajaran yang sangat penting tentang tawakal. Satu pelajaran yang ditanamkan kepada para sahabat dan kita semua agar tidak salah dalam memahami konsep tawakal.

Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ahmad dari sahabat Umar ibn al-Khattab ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Andaikan kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang benar, tentu Allah memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Burung tersebut pergi di waktu pagi kondisi perut yang kosong dan kembali di waktu sore dalam kondisi perut terisi.”

Dari hadis tersebut secara implisit terdapat pesan agar setiap Muslim memiliki sikap tawakal. Tawakal dalam pengertian bersandar bulat kepada-Nya. Pasalnya, manusia makhluk yang lemah. Melawan virus yang kecil saja, ia tidak berdaya.

Maka, sudah sepantasnya manusia bergantung kepada Zat Yang Mahakuat, Maha Mengetahui, dan Mahaperkasa. Dalam Alquran disebutkan, “Siapa yg bertawakal kepada Allah, pasti Dia akan mencukupi (keperluannya).” (QS at-Thalaq: 3).

Hanya saja, tawakal yang dimaksud haruslah tawakal yang tepat dan benar. Karena itu, Nabi SAW menyertai dengan ungkapan tawakkal yang benar atau hakiki; bukan tawakal yang artifisial dan palsu. Bila tawakal sudah dilakukan dengan benar, pasti Dia memberikan janji dan karunia-Nya.

Sebagai contoh dan gambarannya, Nabi mengilustrasikan dengan burung. Burung memiliki sikap tawakal yang benar. Burung terbang di waktu pagi dalam kondisi perut yang kempis dan kosong, lalu dia kembali dalam kondisi perutnya sudah terisi.

Artinya, burung yakin dan percaya bahwa rezekinya sudah dijamin. Ia bertawakal kepada-Nya. Namun, hal itu tidak membuatnya diam di sangkar menunggu datangnya rezeki. Ia bergerak, terbang, dan berikhtiar sehingga memperoleh apa yang telah dijanjikan untuknya. Itulah gambaran tawakal yang benar.

Itu pula yang dicontohkan oleh Nabi SAW dalam perjalanan hidup beliau. Dalam menyikapi dan mengatasi sejumlah masalah, beliau tidak hanya berdoa dan bermunajat. Namun, juga selalu menyertai dengan usaha dan ikhtiar yang maksimal.

Hal itu tecermin saat hijrah, perang, sakit, dan saat menghadapi bahaya. Saat Hijrah Nabi mengatur strategi sedemikian rapi; tidak gegabah. Saat perang Nabi tetap mengatur siasat dan memakai baju besi.

Pelajaran penting inilah yang didapat oleh para sahabat, sehingga mereka tidak salah dalam bertawakal. Misalnya, saat Umar RA melihat penduduk Yaman hanya berpangku tangan dengan alasan tawakal, beliau meluruskan pemahaman tawakal mereka dengan menyuruh mereka untuk bercocok tanam.

Doa memang harus disertai usaha. Tawakal harus disertai ikhtiar. Dalam konteks pandemi saat ini, sikap Muslim dalam bertawakal bisa diwujudkan dengan menjaga prokes, meningkatkan imunitas tubuh, dan melakukan vaksinasi. Kalau itu dilakukan, insya Allah Dia akan memberikan karunia-Nya. Semoga kita semua berada dalam kondisi sehat wal afiat.