Oleh Ustadz Ibnu Rochi Syakiran

Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling mulia, sebagaimana dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku adalah anak Adam yang paling mulia, bukan berarti sombong, aku adalah orang yang pertama kali dibuka kuburnya pada hari kiamat, aku yang pertama memberi syafa’at dan diberi syafa’at, panji pujian ada di tanganku pada hari kiamat dan itu bukan kesombongan.”

Mencintai Baginda Rasulullah SAW adalah suatu kewajiban bagi orang-orang beriman, sebab dijelaskan bahwa “Tidak beriman seseorang diantara kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya dan semua manusia.” (HR. Muslim dan Nasa’i).

Adapun tanda cinta dan iman kita kepada Rasulullah SAW, dapat dilihat/ diaplikasikan dalam:

Semangat dalam berdakwah, Rasulullah SAW mewasiatkan kepada kita bahwa “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Tirmidzi dari Ibnu Umar)

Beriman kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir, mendudukan beliau sebagai manusia biasa yang mendapatkan keutamaan, mentaati setiap perintahnya, mencintainya melebihi cinta kepada manusia mana pun serta beribadah hanya dengan apa yang diajarkan oleh beliau, Rasulullah SAW.

Mengucapkan shalawat apabila nama beliau disebut. “Orang yang paling bakhil adalah orang yang disebut namaku di hadapannya, dia tidak mengucapkan shalawat untukku.” (HR. Tirmidzi)

Mengiringi nama beliau dengan gelar “Nabi” atau “Rasulullah”. Allah SWT Berfirman, “Nabi Muhammad bukanlah Bapak diantara kalian akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab:40)

Menghormati keluarga, istri dan keturunannya serta mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam (QS. Ali Imran:31) Allah Berfirman, “Qul in kuntum tuhibbuunallaha faattabi’uunii yuhbibkumullahu wayaghfir lakum dzunuubakum wallahu ghafuurun rahiimun.”

Artinya: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.”