Oleh Ustadz Suhairi Umar

Setiap orang yang belajar tentu menginginkan ilmu yang bermanfaat. Karena ilmu yang bermanfaat dapat membawa perubahan positif pada diri dan lingkungannya.

Selain itu, ilmu yang bermanfaat bisa menjadi amal yang selalu mengalirkan pahala meskipun yang punya sudah tiada.

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia., maka terputus amalnya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (H.R. Muslim).

Nah, cara yang paling baik untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat adalah dengan memiliki atau menghiasi diri dengan adab sebelum belajar. Pepatah arab mengatakan, “Al adabu fauqal ‘ilmi” yaitu “Adab di atas Ilmu” Artinya, orang yang ingin mendapatkan ilmu, maka ia harus memiliki adab terlebih dahulu.

Orang yang belajar tanpa memiliki adab maka ia tidak akan mendapatkan yang dicarinya. Karena, ilmu ibarat hewan buruan, jika ingin mendapatkannya maka pemburu harus memiliki bekal dan teknik berburu yang baik. Dengan memiliki bekal berburu yang baik, ia akan mendapatkan hewan burungan yang diingikan.

Begitu pula dengan orang yang berburu ilmu, harus memiliki sifat, teknik dan kiat untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Sifat, teknik, dan cara mendapatkan ilmu itu bisa dirangkum dalam satu istilah yang mencakup semuanya, yaitu adab.

Adab bagi pencari ilmu setidaknya dibagi dalam tiga kategori. Pertama, adab kepada diri sendiri. Kedua, adab kepada guru. Ketiga, adab kepada sesama pencari ilmu (teman). [Lihat, Hafiz Hasan Al Mas’udi, Taisir al Khallaq fii ‘Ilmi al- Akhlaq. Hlm.6-7. Beliau adalah salah seorang ulama Al Azhar dan pengajar di sekolah Kementerian Pendidikan di Mesir.]

Pertama, adab kepada diri sendiri. Seorang murid dalam menuntut ilmu apa pun harus memahami dan menghiasi diri dengan adab kepada diri sendiri. Yaitu, membersihkan diri dari sifat sombong. Kebalikan sifat sombong adalah rendah hati (tawadlu’). Sifat inilah yang dianjurkan bagi seorang pelajar.

Sifat sombong adalah parasit atau penyakit yang bisa membuat murid sakit. Jika tidak dibuang akan merusak dirinya sendiri. Sombong akan menghambat bahkan menghalangi seseorang mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Karena dia menganggap dirinya sudah bisa, sehingga tidak mau mendengar dari orang lain.

Bahkan, jika ada orang yang lebih tahu darinya, dia merasa tersaingi dan membenci orang tersebut. Sombong kata nabi, “Menolak kebenaran dan membenci manusia.” Membenci manusia di sini termasuk membenci yang menyampaikan kebenaran dan manusia yang mau mendengarkan kebenaran.

Termasuk adab kepada diri sendiri adalah cara berjalan yang baik, tidak terburu-buru atau terlalu lambat. Karena terburu-buru adalah perbuatan syetan dan sifat lambat menunjukkan diri tidak bersungguh-sungguh dalam belajar.

Bagian adab terhadap diri sendiri selain sombong adalah menjaga pandangan dari yang diharamkan. Karena maksiat dapat menghilangkan ilmu yang sudah di dapat. Ketika ilmu sudah didapat, maka harus dijaga dengan selalu melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Kedua, adab kepada guru. Seorang murid harus memiliki keyakinan bahwa gurunya memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari dirinya dan orang lain. Karena selain mendidik akal, ia juga mendidik rohani muridnya. Maka, selayaknya bagi murid menghormatinya dan merendahkan diri di hadapan gurunya. Duduk dengan baik dan mendengarkan dengan seksama terhadap apa yang disampaikan gurunya, serta menahan diri dengan tidak bercanda atau mengobrol di hadapannya.

Termasuk bagian adab kepada guru adalah tidak memuji guru lain di hadapannya, karena khawatir dikira murid tersebut menghina gurunya. Selain itu, murid juga tidak boleh malu bertanya terhadap sesuatu yang belum dimengerti, karena guru tidak mengetahui dengan pasti apakah muridnya telah memahami atau belum terhadap ilmu yang disampaikan.

Ketiga, adab kepada teman. Menghargai teman dan tidak menghinanya, meskipun ia mengalami kesulitan dalam belajar. Jangan sampai terlontar kata-kata bodoh, idiot dan kalimat merendahkan lainnya, atau bersorak senang saat temannya tidak bisa mengerjakan. Sebab, hal itu bisa melukai hatinya dan membuatnya minder untuk belajar.

Termasuk adab kepada teman adalah menguatkan mental dan semangatnya ketika ia menghadapi masalah. Teman yang baik adalah teman yang bisa menguatkan bukan melemahkan. Adab kepada teman lainnya adalah mengingatkan temannya ketika melakukan kesalahan. Jangan sampai ada prinsip, yang penting saya tidak melakukan, sedangkan temannya terjerumus dalam kesalahan. Pepatah arab mengatakan, “Khoiru al- ashabi man yadulluka ‘ala al-khoiri.” Artinya, “Sebaik-baik teman adalah yang mengarahkanmu kepada kebaikan.”

Inilah tiga macam adab yang harus dimiliki oleh seorang murid agar bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Dengan memiliki adab belajar maka di mana pun dan kapan pun seseorang belajar akan mendaptkan ilmu yang diinginkan.

Dalam mencari ilmu, tidak harus di sekolah atau lembaga formal. Di luar sekolah seperti masjid dan masjlis taklim seseorang bisa mendapatkannya. Sekolah hanya salah satu tempat untuk belajar.

Dan yang harus selalu diingat bahwa belajar di sekolah tidak boleh menomorsatukan ijazah dan nilai. Karena proses dalam belajar itulah yang sebenarnya lebih dibutuhkan. Ijazah fungsinya sebagai tanda atau bukti bahwa seseorang pernah sekolah, tetapi belum tentu pernah belajar.

Belajar adalah sebuah proses panjang yang memerlukan kesungguhan dan keistikomahan. Belajar memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit, baik korban waktu, kesenanagan, dan dana yang besar.

Dalam pepatah arab dikatakan, “Wahai saudaraku, engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara; kecerdasan, tamak (pada ilmu), sungguh-sungguh, dirham (uang) mendatangi guru, dan waktu yang lama.” Wallahu a’lam.