Oleh Ustadz Fauzi Bahreisy

Rasul SAW bersabda, “Mendekati kiamat akan muncul para pendusta. Maka, berhati-hatilah terhadap mereka.” (HR. Muslim). Hadis ini menggambarkan kondisi akhir zaman. Suatu kondisi yang tampaknya mulai terasa sekarang, seiring dengan melemahnya nilai-nilai iman.

Saat ini orang sudah tidak merasa risih berdusta. Bahkan kedustaan, kebohongan, dan kepalsuan masuk ke dalam seluruh sendi kehidupan. Mulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, bisnis, hiburan, politik, birokrasi, hingga pemerintahan. Semuanya tidak lepas dari praktik dusta, kecurangan, dan kepalsuan.

Ada yang berdusta untuk kepentingan dunia; untuk mendapatkan harta, takhta, dan wanita. Ada yang berdusta untuk mencelakakan saudara karena dendam dan kebencian. Ada juga yang berdusta karena canda, hobi, dan kebiasaan. Akhirnya, virus penyakit dusta ini menyebar ke mana-mana.

Cukuplah kita memahami bahaya besar dari berdusta ketika Allah menyebutkannya dalam Alquran sebanyak 280 kali seraya memberikan ancaman keras kepada orang yang biasa berdusta sekaligus menafikan keimanannya. Di antaranya, Allah SWT berfirman, “Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang boros dan pendusta.” (QS. Ghafir: 28). “Celaka bagi orang yang pembohong dan pendosa.” (QS. Al-Jatsiyah: 7). “Orang yang mengadakan kebohongan adalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Mereka adalah para pendusta.” (QS. An-Nahl: 105).

Di antara dampak buruk dan bahaya dusta adalah sebagai berikut:

Pertama, berdusta membuat pelakunya tidak bisa tenang dan selalu merasa gelisah. Rasul SAW bersabda, “Jujur mendatangkan ketenangan sementara dusta mendatangkan keragu-raguan (kegelisahan).” Bagaimana bisa tenang, orang yang berdusta akan selalu dibayang-bayangi oleh rasa takut dan khawatir kalau kebohongannya diketahui orang.

Kedua, dusta menjadi penyebab jatuhnya citra, nama baik, dan kehormatan si pelaku. Orang menjadi kehilangan kepercayaan padanya. Bayangkan kalau dalam satu komunitas satu dengan yang lain sudah tidak saling mempercayai.

Ketiga, dusta menjadi bagian dari bentuk kemunafikan sehingga mengancam eksistensi iman. Rasul SAW bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga. Apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila dipercaya ia khianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, kalaupun si pendusta selamat dan aman di dunia, ia berhasil membungkus segala kepalsuan, kedustaaan, dan kebohongannya dengan berbagai macam intrik dan tipu daya sehingga orang tetap percaya maka di sisi Allah ia tidak akan bisa selamat. Bahkan, dalam hadis disebutkan, “Dusta mengantar pada kejahatan, dan kejahatan mengantar kepada neraka. Manakala seseorang terus berdusta dan berusaha berdusta, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari).

Karena itu, tidak ada jalan lain bahwa hidup tenang, bahagia, terhormat, dipercaya, dan sukses dunia akhirat hanya bisa didapat dengan kejujuran. Kejujuran adalah modal dasar orang-orang istimewa. Allah SWT berfirman, “Ceritakan (wahai Muhammad SAW) kisah Ibrahim dalam al-Kitab (Alquran). Ia adalah orang yang jujur dan juga seorang Nabi.” (QS. Maryam: 41).

“Ceritakan (wahai Muhammad SAW) kisah Idris dalam al-Kitab (Alquran). Ia adalah orang yang jujur dan juga seorang Nabi.” (QS. Maryam: 56). Nabi Yusuf AS juga disebut dan dikenal sebagai orang jujur (lihat QS. Yusuf ayat 46). Apalagi, Nabi Muhammad SAW, sejak muda beliau dikenal sebagai sosok yang jujur dan dapat dipercaya.