Oleh Ustadz Said Baumar

Ibnul Qayyim menyebutkan dalam sebuah hadist shahih dalam Musnad Imam Ahmad, bahwa ketika seorang suami beristrikan Hur’ain (bidadari), kemudian pada saat itu akan datang seorang wanita lain yang kecantikan dan keelokannya mampu membuat seorang Raja melupakan wanita-wanita lainnya.

Siapakah wanita itu? Ternyata wanita tersebut adalah istrinya dahulu kala di dunia. Itulah keistimewaan para istri di surga, dia akan menjadi Ratu dari para Hur’ain (bidadari surga).

Lalu Ibnul Qayyim mengatakan, “Apakah seorang Raja pernah memikirkan para pelayannya dihadapan Ratunya?” Tentu tidak.

Jadi, Allah Subhanhu Wa Taala akan memberikan pada istri kecantikan yang luar biasa, jauh melebihi para bidadari. Mengapa demikian?

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Karena Hur’ain (bidadari) tidak pernah menghadapi kesulitan yang dirasakan wanita dunia. Mereka tidak pernah berjuang dijalan Allah, tidak pernah dicemooh orang karena mengenakan hijab, tidak pernah merasakan sulitnya patuh pada suami, dan lain-lain.”

Mengenai keistimewaan istri (wanita) di surga dibandingkan bidadari, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam melalui hadistnya mengatakan “Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan pula, bahwa wanita dunia yang shalihah lebih utama daripada bidadari surga.

Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Rasulullah menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Kemudian saya bertanya lagi, “Karena apakah wanita dunia lebih utama dari bidadari surga?”

Lalu beliau menjawab “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Lalu Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas.”

Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami, dan kami memilikinya.” (HR. Ath-Thabrani).

Sungguh ini sebuah kemulian yang diberikan Allah kepada kaum wanita khususnya para isteri. Derajat mereka bisa menjadi lebih mulia daripada bidadari surga, mereka akan menjadi ratu-ratu bidadari di surga.

Untukmu kaum wanita, jangan sia-siakan kesempatan kalian untuk menjadi Ratu para bidadari di surga!

Ingat, setelah meninggal tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia. Mulai sekarang, bagi para istri, berlombalah agar bisa menjadi istri yang shalihah!

Dan bagi para suami, hargailah kebaikan istri kalian, serta bimbinglah ia agar bisa menjadi Ratunya para bidadari kelak di surga.