Oleh Ustadz Fauzi Bahreisy

Dalam kehidupan di dunia ini tidak ada manusia yang tidak ingin sukses, setiap kita ingin mendapatkan kesuksesan. Kita ingin berhasil, kita ingin beruntung, tetapi dalam mempresepsikan kesuksesan, keberhasilan, keberuntungan tersebut manusia berbeda-beda. Ada di antara manusia yang mempresepsikan kesuksesan tersebut dengan standar-standar yang bersifat duniawi, dengan standar yang bersifat dzahir, diukur dengan angka-angka dan bilangan. 

Kalau kita melihat orang yang memiliki harta berlimpah kita anggap dia sukses, kalau kita lihat ada orang yang mempunyai kedudukan tinggi kita anggap dia sukses, kalau kita melihat orang yang mempunyai pendukung banyak kita anggap sukses, kalau kita melihat ada orang yang terkenal dan populer kita anggap sukses, ini adalah standar-standar dzahir, dan kalau ada manusia yang mengukur kesuksesan itu hanya pada hal-hal yang lahiriah semata, padahal yang bersifat duniawi semata semacam ini, maka hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Ya’lamuuna zhaahiran minal hayaatiddunyaa wahum ‘ani-aakhirati hum ghaafiluun(a).” mereka hanya tahu tentang lahirnya dunia, kulitnya dunia, tetapi mereka lalai terhadap akhirat.

Orang yang orientasi kesuksesannya hanya kepada kesuksesaan duniawi, maka dapat dipastikan bahwa dia akan menempuh dengan segala cara untuk mendapatkan kesuksesan tersebut. Dia tidak lagi peduli mana yang halal dan mana yang halal, mana yang haq mana yang batil, mana yang benar mana yang salah, bahkan sekalipun harus menyikut saudaranya, merusak kehormatan saudaranya, dia lakukan untuk mencapai kesuksesan yang di inginkan. Dan orang yang mempunyai orientasi kesuksesan seperti itu, biasanya ketika dia mendapatkan yang dia inginkan dia akan menjadi orang takabur, orang yang sombong, orang yang lupa diri, congkak dengan segala yang dimilikinya, persis seperti yang dicontohkan oleh Qarun ketika dia mendapatkan harta dan karunia yang berlimpah dari Allah SWT dia mengatakan, “Innama Utituhu ‘ala ‘ilmii indi.” bahwa semua yang dia dapatkan adalah berkat ilmunya, dia sombong dengan apa yang dia miliki lupa kepada Allah SWT.

Tetapi sebaliknya manakala orang-orang yang orientasi kesuksesannya hanya pada dunia, lalu dia tidak berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan maka cepat sekali dia menjadi orang-orang yang stres, tertekan jiwanya, frustasi, dan ini yang banyak kita dapatkan dan kita baca dan bahkan kita temukan di sekitar kita. Karena itu, orang-orang yang beriman tidak mengukur kesuksesannya pada hal-hal yang bersifat duniawi, tapi lebih dari itu. Kesuksesan, keberhasilan, dan keberuntungannya melampaui batas-batas dunia sekat-sekat dunia sebab orientasi tertingginya adalah Jannah-Nya Allah SWT.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “faman zuhziha ‘aninnaari wa-udkhilal jannata faqad faaza.” orang yang dijauhkan dari api neraka dan di masukan ke dalam surga-Nya Allah SWT, Allah mengatakan “faqad faaza.” itulah orang yang sukses, jadi kita semuanya sebagai orang yang beriman harus menjadikan standar kesuksesan kita adalah ukhrawi, akhirat kita. Bagaimana kita bisa terhindar dari neraka dan masuk ke dalam surga Allah SWT, itu yang namanya sukses. Karena itu yang menjadi tolak ukur standar orang-orang yang beriman maka dia tidak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesuksesan itu, dia akan berhati-hati betul, dia akan berusaha untuk menjalakan segala aktivitsnya sesuai dengan perintah-perintah Allah SWT. Sesuai dengan rambu-rambu Allah SWT. Dia tidak mau menghalalkan segala cara sebab Allah SWT thoyyib “Laa yaqbalu illa thayyiban.” Allah SWT maha baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik. 

Tidak boleh seorang mukmin kalau dia ingin sukses akhiratnya, dia tidak boleh menghalalkan segala cara, dia harus memilah dan memilih mana yang diridhoi Allah SWT, mana yang dimurkai Allah SWT, mana yang halal mana yang haram. Orang yang beriman tidak mau mengorbankan akhiratnya dengan dunia, karena dunia sepanjang apapun kita hidup di dunia, tidak ada artinya jika dibandingkan dengan akhirat. Karena itu dia tidak mungkin menukar akhiratnya dengan dunia, dia akan menjaga betul agar dia mendapatkan kesuksesan di akhiratnya dan mendapatkan kesuksesan masuk surga-Nya Allah SWT.

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: “Yaa ayyuhalladzina amanuuttaqullaha wal tandhur nafsun maa qaddamat lighad. Wa ttaqullaha. Inna llaha khabiirun bimaa ta’maluun.” (QS. Al-Hasyr, 59:18). Orang yang beriman akan mempersiapkan diri dari sekarang, mulai dia rajut bagaimana langkah-langkah untuk mendapatkan kesuksesan di akhriat nanti, dia berusaha untuk menjauhi yang haram, sebagimana dijelaskan dalam kisah salafus shalih, ada seorang istri yang shalihah yang setiap kali mengantar suaminya bekerja dia katakan kepada suaminya, “bertakwalah engkau kepada Allah jangan kau beri makan kami dari yang haram, sebab kami bisa bersabar dengan rasa lapar tapi kami tidak bisa tahan menghadapi panasnya api neraka.” ini standar kesuksesan yang dimiliki oleh salafus shalih, orang yang orientasinya jauh kepada akhirat, bukan melulu dunia. Dia tidak mau menyentuh yang haram karena itu dapat membahayakan akhiratnya. Demikian pula orang yang berorientasi kepada akhirat, ingin mendapatkan kesuksesan diakhriat nanti. Dia tidak akan berbuat zalim kepada saudaranya, dia tidak akan menganiaya saudaranya, mengambil harta saudaranya, merusak kehormatan saudaranya, sebab dia paham betul peringatan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa kezaliman akan mendatangkan kegelapan pada hari kiamat nanti. dan kita sadar betul bahwa orang-orang yang berbuat zalim di dunia walaupun ibadahnya banyak, walaupun shalatnya banyak, walaupun ketaatannya banyak dia akan menjadi orang yang bangkrut nanti dihari akhir karena berbagai kezaliman yang dia lakukan.

Ini langkah kita untuk menuju kesuksesan, dari sekarang kita harus berdoa kepada Allah SWT. Bertaubatlah kepada Allah selama jantung kita berdetak maka masih ada kesempatan kit auntuk mempersiapkan kesuksesan dari kehidupan ita menju akhirat kita siapkan bekal kita, kita persiapkan amal-amal shaleh kita, kita persipakan ibadah kita, kita sipkan infaq dan shadaqoh kita, kita persipakan berbagai amal shaleh selagi Allah memberi kesempatan untuk kita untuk melakukan amal shaleh. Lakukan amal shaleh itu agar kita mendapat kesuksesan yang hakiki di sisi Allah SWT.

Orang yang semacam ini, yang orientasi kesuksesannya adalah akhirat, dia tidak akan pernah merugi. Maka manakala ketika dia mendapatkan nikmat dari Allah SWT, dia tidak akan lupa diri, dia malah akan semakin dekat dengan Allah SWT, dia semakin bersyukur kepada Allah SWT, dia semakin tawadhu, semakin taqarrub, dan semakin taat kepada Allah SWT. Kalau apa yang dia inginkan tidak berhasil di dunia dia tidak akan kecewa karena dia sadar betul Allah yang menentukan semuanya, dia akan bersabar dengan takdir Allah SWT. Dan dibalik sabar itu dia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT.

Karena itu, mari dari sekarang kita persiapkan apa yang akan membuat kita sukses di akhirat nanti. Suksesnya manusia di akhirat insyaAllah dimulai dari suksesnya dia di dunia kalau terus istiqamah di jalan Allah SWT, terus istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT, dia tidak berpaling dari jalan Allah maka sejatinya dia sedang menempuh jalan-jalan kesuksesan di sisi Allah SWT. Orang yang taat kepada Allah dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala menegaskan, “faqad faza fauzan adzima,” Maka orang-orang yang semacam itu yang mendapatkan kesuksesan yang besar.

Mudah-mudahan kita diberikan oleh Allah SWT kesuksesan dalam hidup ini tidak terperdaya oleh dunia, tidak tertipu oleh dunia, tidak tertipu dengan semua fitnah yang akan mengganggu orientasi kita kepada akhirat. Mudah-mudahan kita semua dijaga oleh Allah SWT. Aamiin.