Oleh Ustadz Suhairi Umar

Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulumuddin mengatakan, “Siapa yang mengaku cinta surga tetapi tidak berbuat ketaatan maka dia berdusta. Siapa yang mengatakan cinta kepada nabi tapi tidak cinta kepada ulama dan fakir miskin maka dia berdusta. Siapa yang mengaku takut kepada neraka tapi tetap melaksanakan maksiat, maka ia berdusta. Dan siapa yang mengaku cinta Allah tapi masih mengeluh ketika ditimpa musibah maka cintanya adalah dusta.”[1]

Menurut Imam Ghazali, cinta cirinya selalu ingin identik dengan yang dicintainya dan menghindari untuk menyelisihinya. Rabiah Al Adawiyah seorang ahli ibadah di zaman Khalifah Harun Al Rasyid membuat syair yang isinya menyinggung mereka yang mengaku mencintai Allah SWT.

“Engkau bermaksiat kepada Tuhan tapi engkau selalu mengatakan mencintai-Nya, sungguh ini adalah analogi yang mengada-ada. Jika cintamu tulus kepada-Nya niscaya engkau akan melakukan apa yang diinginkan-Nya. Sesungguhnya seorang pencinta sejati akan tunduk kepada orang yang dicintainya.”

Pada suatu saat diceritakan ada sekelompok manusia yang mendatangi Imam Syibli. Beliau bertanya, “Siapa kalian?” Dijawab, “Kami adalah orang-orang yang mencintai anda.” Kemudian, Imam Syibli melempari mereka dengan batu. Seketika mereka lari menjauh untuk menyelamatkan diri. Ketika mereka lari, Imam Syibli mengatakan, “Jika kalian benar para pencinta, mustahil kalian lari dari musibah kecil yang aku lakukan ini.”

Sahabat Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Siapa yang rindu kepada surga akan segera berbuat kebajikan. Siapa yang takut neraka, niscaya dia akan mengendalikan nafsunya untuk tidak menuruti segala kenikmatan. Siapa yang percaya pada kematian, maka segala kenikmatan dunia hina di matanya.”[2]

Cinta sejati adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta kepada sang pencipta dan Rasul-Nya tanpa syarat, total dan bersifat abadi. Sedangkan cinta kepada manusia terkadang tercemari dengan kedustaan dan pura-pura serta bersifat sementara. Wallahu a’lam.

Referensi:
[1] Imam Ghazali, Mukasyafatul Qulub (Singapura, Jiddah, Indonesia: Al Haramain), hlm. 26.
[2] Imam Ghazali, Mukasyafatul Qulub …, hlm. 27.

Sumber:
Narasihikmah.com